Banyak Menyerang Lansia, Kenali Cara Mencegah Alzheimer

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin

Seiring menuanya seseorang kemampuan otak untuk mengingat tentu juga akan mengalami penurunan, kondisi ini yang dikenal sebagai alzheimer. Kebanyakan kasusnya, terjadi pada orang yang berusia di atas 60 tahun. Lalu apakah penyakit ini bisa dicegah?

Baca Juga: Sering Anyang-anyangan, Cari Tahu Penyebab dan Cara Mengatasinya

Penyakit alzheimer

Alzheimer adalah penyakit atau gangguan neurologis yang terjadi akibat kematian sel-sel otak atau bisa disebut neurodegeneratif. Penyakit ini dapat menyebabkan kehilangan memori hingga penurunan fungsi kognitif.

Faktor penyebab 

Faktor yang menjadi penyebab pasti dari penyakit ini belum diketahui. Namun sangat mungkin bahwa kombinasi dari faktor genetik, gaya hidup, dan lingkungan punya kontribusi atas berkembangnya penyakit ini dalam tubuh.

Di samping itu, peneliti juga memperkirakan hal berikut sebagai penyebab penyakit ini:

  • bertambahnya usia
  • memiliki riwayat penyakit tersebut dalam keluarga
  • depresi yang tidak diobati (depresi juga bisa menjadi salah satu gejala penyakit)
  • faktor gaya hidup dan kondisi yang terkait dengan penyakit kardiovaskular

Kelompok yang rentan terkena alzheimer 

Penyakit ini paling sering terjadi pada orang berusia di atas 65 tahun. Setidaknya ditemukan 1 dari 14 orang di atas usia 65 dan 1 di setiap 6 orang di atas usia 80 menderita alzheimer atau gangguan ingatan lainnya. 

Meski begitu, ditemukan juga bahwa 1 dari setiap 20 kasus penyakit alzheimer menyerang orang berusia 40 hingga 65 tahun. Kondisi ini disebut dengan Young Onset Alzheimer’s Disease.

Bagaimana gejalanya? 

Gejala dari penyakit yang satu ini tidak akan langsung muncul serentak. Penderita penyakit ini akan mengalami gejala yang berkembang secara bertahap dan bisa terjadi dalam kurun waktu bulanan hingga tahunan. 

Gejala penyakit ini dapat dibagi ke dalam 3 tahapan sebagai berikut: 

1. Tahap ringan

Di awal kemunculan penyakit ini, gejala utama yang terjadi adalah penyimpangan memori.

Sehingga penderitanya dapat mengalami hal seperti berikut:

  • Kesulitan bicara dan memahami informasi
  • Mengajukan pertanyaan berulang-ulang
  • Menjadi kurang fleksibel
  • Salah dalam menyimpan barang
  • Sering lupa
  • Perubahan suasana hati
  • Kehilangan energi dan spontanitas
  • Sulit mempelajari hal-hal baru
  • Masih bisa melakukan kegiatan normal tetapi butuh didampingi.

2. Tahap sedang

Seiring berkembangnya penyakit ini, gangguan pada memori seseorang akan bertambah buruk, hal ini ditandai dengan: 

  • Tidak mengenali wajah yang pernah dikenal sebelumnya seperti keluarga dan teman
  • Kesulitan memahami hari, waktu, dan lokasi
  • Kesulitan mengukur sesuatu
  • Mengingat masa lalu, tapi sulit mengingat yang terjadi saat ini
  • Sulit berbicara dan kehilangan kata-kata 
  • Perilaku obsesif, berulang atau impulsif
  • Frustrasi atau gelisah
  • Melihat atau mendengar hal-hal yang tidak dilakukan orang lain (halusinasi).

Pada tahap ini, penderita alzheimer mulai dilumpuhkan oleh penyakitnya. Sehingga mereka akan membutuhkan dukungan untuk membantu mereka dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, perlu bantuan makan, minum, berpakaian dan menggunakan toilet.

3. Tahap parah

Pada tahap selanjutnya, gejala yang ditimbulkan penyakit alzheimer akan semakin parah dan dapat menyusahkan orang dengan kondisi tersebut. Termasuk pengasuh, teman dan keluarga mereka. 

Terkadang orang dengan penyakit ini bisa bersikap beringas, menuntut dan curiga terhadap orang-orang di sekitar. Mereka juga semakin sering berhalusinasi. Sejumlah gejala lain juga akan muncul mengiringi gejala sebelumnya, seperti:

  • Tidak dapat mengunyah dan menelan (disfagia)
  • Kesulitan mengubah posisi atau bergerak tanpa bantuan
  • Hanya terbaring di tempat tidur yang menyebabkan rentan terhadap pneumonia atau penyakit lain
  • Penurunan berat badan
  • Semakin tidak responsif
  • Kehilangan kontrol tubuh sehingga bisa buang air kecil maupun buang air besar secara tidak disengaja
  • Tidak mengenal siapapun
  • Koma hingga paling parah kematian.

Pada tahap ini, penderita alzheimer sangat membutuhkan perawatan dan bantuan penuh dalam hal apapun. 

Diagnosis alzheimer 

Gejala penyakit ini berkembang secara perlahan dari waktu ke waktu sehingga akan sulit mendeteksinya lebih awal. Terlebih bagi sebagian besar orang, masalah ingatan hanyalah bagian dari bertambahnya usia.

Tetapi ingatlah bahwa penyakit alzheimer bukan hal yang “normal” terjadi dalam proses penuaan. Untuk memeriksa kesehatan ingatanmu, sebaiknya konsultasi pada dokter umum. Dokter dapat mendiagnosis kondisi tersebut berdasarkan:

  • Riwayat terbaru dari kondisi mental dan perilaku

Tidak ada tes tunggal untuk penyakit alzheimer, untuk itu dokter akan melihat tanda dan gejala berdasarkan riwayat medis pasien baik dari segi mental maupun fisik. 

  • Pemeriksaan fisik dan uji laboratorium

Dokter akan menguji keseimbangan, indera, dan refleks dari pasien. Di samping itu juga akan dilakukan tes darah atau urin, CT atau MRI scan otak, dan skrining untuk depresi.

  • Tes neuropsikologis

Tes ini dilakukan ntuk mengidentifikasi masalah spesifik dalam fungsi dan perilaku mental. 

  • Tes kognitif

Untuk mengonfirmasi diagnosis alzheimer, setidaknya pasien harus menunjukkan dua tanda yakni kehilangan memori secara bertahap dan gangguan kognitif progresif.

Untuk memeriksanya, dokter akan menanyai pasien dengan pertanyaan seputar data diri pasien, nama lokasi, wajah seseorang atau informasi umum lainnya yang seharusnya mudah dijawab. 

  • Tes genetik

Dalam beberapa kasus, tes genetik mungkin sesuai untuk mendiagnosis penyakit ini. Gen APOE-e4 dikenal sebagai gen yang membuat penyakit alzheimer berkembang pada tubuh seseorang yang berusia di atas 55 tahun.

Melakukan tes ini di awal dapat menunjukkan kemungkinan seseorang menderita alzheimer atau tidak. Namun, penggunaan tes ini masih dianggap kontroversial dan hasilnya tidak sepenuhnya dapat diandalkan.

Baca juga: Bisa Bikin Pikun, Hindari 5 Makanan Ini untuk Cegah Demensia

Kapan harus menemui dokter?

Bila kamu atau kerabat terdekatmu menunjukkan gejala yang berpotensi pada penyakit ini konsultasikan dengan dokter sesegera mungkin. Mendapatkan diagnosis dan perawatan sedini mungkin sangat penting bagi kesehatan tubuh. 

Lalu bagaimana cara mengobati alzheimer?

Sampai saat ini, belum ada obat untuk penyakit alzheimer karena kondisi matinya sel-sel otak tidak bisa dikembalikan.

Berbagai peneliti di seluruh dunia masih mencari tahu penyebab, cara-cara untuk mencegah, cara mendeteksi lebih awal atau cara menghentikan perkembangan penyakit begitu seseorang mengidapnya. 

Meski begitu, penderita alzheimer tetap memiliki beberapa pilihan untuk melakukan perawatan pada tahap awal kemunculan gejalanya.

Pertama adalah dengan konsumsi obat-obatan. Beberapa obat membantu mengendalikan atau menunda gejala untuk sementara waktu. Kedua, penderita dapat menjalani perawatan berupa pengelolaan lingkungan.

Penderita penyakit ini membutuhkan lingkungan yang kondusif sehingga dapat mengurangi stres dan kecemasan dalam kegiatan sehari-hari. Mereka juga butuh layanan khusus serta kelompok pendukung sehingga dapat menjalani hari di samping melawan penyakitnya. 

Obat-obatan alzheimer

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) telah menyetujui obat-obatan yang dapat membantu mengatur atau mengelola gejala penyakit alzheimer. Obat-obatan ini digunakan pada penderita dengan gejala ringan hingga sedang: 

  1. Aricept (donepezil)
  2. Exelon (rivastigmine)
  3. Cognex (tacrine)
  4. Razadyne (galantamine).

Keempat obat di atas, memperlambat kerusakan kimia pada sel otak. Kondisi ini otomatis dapat memperlambat terjadinya gangguan kognitif. Sedangkan obat kelima yakni Namenda (memantine), digunakan untuk penderita yang mengalami gejala sedang hingga berat.

Bagaimana cara kerja obat untuk penyakit ini?

Obat-obatan ini mungkin bekerja untuk sebagian orang dan tidak bekerja bagi sebagian lainnya. Namun perlu diingat bahwa konsumsi obat tidak menghentikan perkembangan penyakit alzheimer. 

Konsumsi obat-obatan ini hanya akan menunda atau membantu mengontrol gejala yang muncul, terutama pada tahap awal penyakit.

Penggunaan obat yang diresepkan dokter dapat membantu meningkatkan fokus, perhatian, kemampuan kognitif, memori, dan keterampilan komunikasi dari penderita alzheimer.

Efek samping obat alzheimer

Bicarakan tentang pro dan kontra obat dengan dokter sebelum memutuskan menjalani perawatan untuk penyakit ini. Namun secara umum, obat-obatan mungkin memiliki efek samping seperti:

  • Diare
  • Pusing
  • Kelelahan
  • Kehilangan selera makan
  • Mual
  • Sulit tidur.

Kaitan alzheimer dengan kecemasan, depresi, dan psikosis

Saat seseorang mengalami alzheimer, biasanya gangguan jiwa pun muncul beriringan pada orang tersebut. Mulai dari depresi, agitasi, dan gejala psikotik seperti pikiran paranoid atau halusinasi. Kondisi ini dapat menyebabkan masalah perilaku seperti:

  • Kesulitan tidur
  • Melamun
  • Berteriak-teriak
  • Mondar-mandir
  • Kegiatan fisik atau verbal lainnya.

Merawat penderita alzheimer

Perlu diingat, orang dengan penyakit ini bisa mengalami hal-hal yang menggambarkan penurunan kerja otak. Mulai dari lupa cara merespons dengan tepat, frustrasi dengan keterbatasan gerak, sering salah paham hingga tidak dapat berkomunikasi. 

Kondisi tersebut mengingatkan bahwa penderita penyakit ini butuh pengawasan khusus dalam kesehariannya. Sehingga biasanya dibutuhkan sosok yang khusus merawat penderita alzheimer. 

Dalam menghadapi penurunan kerja otak dari penderita penyakit ini, kamu bisa mengambil langkah non-medis seperti:

  • Menciptakan ruangan yang tenang untuk pasien
  • Menghindari kebisingan dan gangguan
  • Memberikan aktivitas yang menyenangkan seperti mendengarkan musik
  • Teratur dalam memonitor kenyamanan pribadi dari pasien

Faktor lain 

Penyakit gangguan otak ini juga dapat disebabkan oleh faktor lain. Mulai dari gangguan pendengaran, kesepian atau isolasi sosial,  depresi yang tidak diobati atau gaya hidup yang tidak banyak bergerak. Untuk itu, sebisa mungkin jalani gaya hidup seimbang. 

Pencegahan alzheimer

Penyebab pasti dari penyakit alzheimer tidaklah jelas, sehingga cara spesifik untuk mencegahnya pun belum diketahui. Tetapi kamu mengurangi dapat risiko terkena demensia dengan cara berikut:

  • Berhenti merokok
  • Menjaga konsumsi alkohol seminimal mungkin
  • Makan makanan yang sehat dan seimbang dan menjaga berat badan yang sehat
  • Tetap sehat secara fisik dan mental 
  • Berolahraga setidaknya 150 menit setiap minggu dengan melakukan aktivitas aerobik
  • Memastikan tekanan darah terkendali secara rutin.

Langkah-langkah tersebut memiliki manfaat untuk masalah kesehatan lainnya, seperti menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan meningkatkan kesehatan mental. Penelitian menyimpulkan bahwa dengan memodifikasi semua faktor risiko, seseorang dapat terhindar dari demensia 

Baca Juga: Waspadai Preeklampsia, Gangguan Kehamilan yang Jarang Disadari

Mencegah alzheimer dengan aktif secara sosial dan mental 

Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa tingkat demensia lebih rendah pada orang yang tetap aktif secara mental dan sosial sepanjang hidup mereka.

Selain menjaga kesehatan fisik, kamu bisa mencegah risiko penyakit alzheimer dengan melakukan kegiatan yang memicu aktivitas sosial seperti:

  • Banyak membaca
  • Belajar bahasa asing
  • Memainkan alat musik
  • Melakukan kegiatan sukarela di komunitas
  • Mencoba kegiatan atau hobi baru
  • Aktif bersosialisasi dengan lingkungan.

Kondisi alzheimer pada lansia memang tidak bisa dihindari. Namun kondisi ini bisa diperlambat datangnya, sehingga para lansia tidak kehilangan kualitas hidupnya bersama keluarga tercinta.

Konsultasikan kondisi kesehatan kamu di Good Doctor. Yuk, lakukan konsultasi online dengan dokter terpercaya hanya di GrabHealth Apps!

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin